Full width home advertisement

Post Page Advertisement [Top]

 FRUITFUL

(Di Musim Apapun)

 

apapun-musimnya

 

PENDAHULUAN

Setiap orang percaya merindukan untuk bisa seseorang yang BERBUAH.   Yang produktif dan berhasil.

 

Dalam kenyataan sehari-hari, secara natural sebuah pohon yang berbuah pada umumnya hanya dapat berbuah pada musimnya.


Hampir tidak ada pohon yang bisa berbuah sepanjang tahun, terutama ketika ditanam di tempat dimana iklimnya memang tidak mendukung.

 

Namun, menariknya untuk kehidupan orang percaya; Tuhan mengatakan kita bisa tidak berhenti berbuah tanpa tergantung pada musim maupun iklimnya.

 

KALIMAT PERALIHAN

Untuk itu mari kita mendalami firman Tuhan dari:

 

Yeremia 17:7-8

"Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah."

 





 

ISI

Hidup ini penuh dengan berbagai jenis musim!  

Ada musim berkat, ada musim susah, ada musim penuh sukacita, dan ada musim banyak pencobaan.    

 

Namun, firman Tuhan mengajarkan bahwa orang yang mengandalkan Tuhan dan menaruh harapannya pada Tuhan akan tetap berbuah di segala musim kehidupan.  Dikatakan dia akan “TIDAK BERHENTI” menghasilkan buah.

 

Dan Tuhan rindu, bahwa orang itu adalah setiap orang percaya!  Termasuk saudara, dan saya!  Amin?

 

 


Apa yang memungkinkan pertumbuhan seperti itu bisa terjadi?  Penyebabnya adalah karena:

Pohonnya di Tanam Tepi Air, Sehingga Akarnya Menemukan Sumber Kesegaran yang Terus Menerus

 

Maka: Bukan Musim Panas Terik Tidak Ada, Bukan tahun kering tidak terik terjadi,

= Daunnya tetap hijau karena akarnya SELALU terus menemukan sumber kesegaran.


Itulah berkat Tuhan kalau semua hidup kita bisa seperti hidup pohon yang seperti itu!  Betul?

 

 


Namun sadari prinsip ini:

Yang namanya anugerah keselamatan Tuhan itu tidak bersyarat – karena itu namanya Anugerah.   Tetapi berkat Tuhan itu selalu bersyarat!

 
Karena itu mengenai keselamatan, firman Tuhan berkata:

 

Efesus 2:8-9

Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.

 

Titus 3:5

pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus,

 

Roma 3:23-24

Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.

 

 


Sedangkan mengenai berkat Tuhan, firman Tuhan berkata:

 

Ulangan 28:1-2

Jika engkau baik-baik mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan dengan setia segala perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, maka TUHAN, Allahmu, akan mengangkat engkau di atas segala bangsa di bumi.  Segala berkat ini akan datang kepadamu dan menjadi bagianmu, jika engkau mendengarkan suara TUHAN, Allahmu:

 

Yakobus 1:12

Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia.

 

Matius 6:33

Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.

 

 

Dari ayat-ayat di atas, kita dapat melihat bahwa anugerah keselamatan adalah pemberian Tuhan yang tidak bersyarat,

Sedangkan berkat Tuhan sering kali datang dengan syarat tertentu, betul?

 

 

Ingatlah: BERKAT MEMERLUKAN RESPONS DAN TINDAKAN DARI KITA.

 

 







Maka, apa syaratnya kalau kita ingin menerima berkat dimana hidup kita meskipun musim panas terik terjadi, bahkan tahun kering terjadi, tetapi hidup kita terus segar dan berbuah?

 

Ada 2 syaratnya, yang pertama bersikap aktif, dan yang kedua adalah bersikap pasif.  Apa itu?

 

#1 Mengandalkan Tuhan (Sikap Aktif)

Inilah berkat bagi mereka yang mengandalkan Tuhan—kekuatan, ketenangan, dan kemampuan untuk tetap menghasilkan buah, bahkan dalam masa sulit.

 

Dunia mungkin mengalami perubahan demi perubahan, rasanya seperti tidak ada yang pasti lagi, masalah datang silih berganti.   

 

Tetapi Hidup kita bisa tetap kuat kalau sumber kehidupan kita bukanlah tergantung keadaan di sekitar kita.  Melainkan bersumber pada Tuhan sendiri.

 

 

Musim kering bisa datang dalam berbagai bentuk:

pergumulan pribadi, krisis keuangan, kehilangan teman, atau kehilangan harta, atau tantangan lainnya.  Namun, jika kita terus berakar di dalam Tuhan, mendapatkan sumber kesegaran dan kehidupan terus di dalam Tuhan, kita tidak akan menjadi layu. 

 

 

Namun, jika kita mengandalkan yang bukan Tuhan, ….

entah itu diri kita sendiri atau manusia lain, atau sosok lain di luar Tuhan, kita pasti akan menjadi layu dan patah.

 

Mengapa?
Mengandalkan diri kita sendiri, kita bisa gagal.  Kita bisa tiba2 sakit, kita bisa kelelahan, kita bisa menyerah.

 

Mengandalkan orang lain, orang tiba-tiba bisa berubah, dan mengecewakan kita.

Mengandalkan keadaan dunia, dunia selalu berubah dengan cepat.

Mengandalkan harta dan jabatan, semua bisa hilang dalam sekejab!

 


Namun ada yang tidak akan pernah berubah.  Siapa?  Tuhan!

Karena Tuhan tidak pernah berubah, maka:

- DIA bisa diandalkan,

- DIA bisa dipercaya,

- DIA tidak akan mengecewakan.  Amin?




Apa bentuk nyatanya hidup seseorang mengandalkan Tuhan?  ALIVE!

 

Mengandalkan Tuhan
A-L-I-V-E

A → Ask God in Prayer (Doa)
Mulailah setiap hari dengan berdoa, tanya Tuhan, minta Tuhan, andalkan Tuhan dalam segala hal.

 

Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.

(Matius 7:7)

 

 

L → Lean on God's Promises (Percaya)
Lakukanlah segala sesuatu dengan bersadarlah pada janji Tuhan, bukan pada pemahaman sendiri.

 

Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.

(Amsal 3:5-6)

 

 

I → Immerse in the Word (Firman)
Hiduplah dalam firman Tuhan, biarkan itu menjadi sumber hikmat kita.

 

Immerse itu berarti “merendam”.  Benar-benar jadikan firman Tuhan memenuhi, membasahi seluruh hidup kita.

 

Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.

(Mazmur 119:105)

 

 

V → Victory through Obedience (Taat)

Jika engkau baik-baik mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan dengan setia segala perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, maka TUHAN, Allahmu, akan mengangkat engkau di atas segala bangsa di bumi.  Segala berkat ini akan datang kepadamu dan menjadi bagianmu, jika engkau mendengarkan suara TUHAN, Allahmu:

(Ulangan 28:1-2)

 

Taat pada Tuhan adalah kunci kemenangan sejati, meskipun dalam kesulitan.   Maka jangan kompromi, jangan gantikan nilai-nilai Tuhan dengan nilai-nilai dunia.

 

 

E → Endure with Faith (Setia)
Tetap bertahan dengan iman bahkan di saat sulit,  Setialah sebab Tuhan juga selalu setia.

 

Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia.

(Yakobus 1:12)

 

 




#2 Menaruh Harapannya Pada Tuhan (Sikap Pasif)

Menaruh harapan pada Tuhan adalah suatu sikap pasif yang menunjukkan kepercayaan penuh kepada-Nya sebagai sumber jawaban dan penyelesaian dalam hidup kita.

 

ILUSTRASI: SEPERTI MENARUH ADONAN KUE DI OVEN.

sabar-menunggu



Lalu sesudah itu apa? Bersikap pasif.  Betul? Cuma bisa menunggu, dalam iman bahwa oven itu pada waktunya akan membuat adonan berubah matang menjadi kue yang lezat.

 

 

Ada masa dimana kita tahu bahwa saat ini kita sedang tidak bisa melakukan apapun didalam Tuhan, hanya bisa menunggu Tuhan.

Saat-saat seperti itu, seringkali membuat kita gelisah.  Kita bisa  sangat tergoda ingin bertindak sendiri.  Melakukan hal-hal di luar cara Tuhan dan perkenanan Tuhan.

Namun biarlah Mazmur 62:6 meneguhkan kita bahwa:

"Hanya pada Allah saja kiranya aku tenang, sebab dari pada-Nyalah harapanku."

 

 

Menaruh Harapan pada Tuhan berarti bahkan saat kita harus menunggu, kita akan:

 

1. Menanti dengan Keyakinan, Bukan dengan Ketakutan:

Contoh:  Seorang yang sedang mencari pekerjaan baru mungkin merasa cemas tentang masa depan.  Namun, dengan menaruh harapan pada Tuhan, ia dapat berdoa dan percaya bahwa Tuhan akan membuka pintu yang tepat pada waktu yang tepat.

 


 

Menaruh Harapan pada Tuhan berarti bahkan saat kita harus menunggu, kita akan:

2.  Percaya pada Janji-Nya Meskipun Belum Melihat Hasilnya:

Menaruh harapan pada Tuhan juga berarti kita percaya pada janji-janji-Nya, meskipun kita belum melihat hasilnya.   

 

Contoh:

Dalam situasi sulit, seperti sakit atau masalah keuangan, kita mungkin tidak segera melihat jalan keluar.  Namun, dengan berpegang pada janji Tuhan bahwa Dia akan menyediakan, memulihkan, dan menyembuhkan, kita dapat tetap tenang dan berharap.

 

 

Menaruh Harapan pada Tuhan berarti bahkan saat kita harus menunggu, kita akan:

3.  Percaya bahwa Tuhan SELALU Memiliki Rencana yang Baik:

 Menaruh harapan pada Tuhan juga berarti kita percaya bahwa Dia memiliki rencana yang lebih baik daripada yang bisa kita bayangkan.  Kita mungkin tidak selalu memahami jalan yang Tuhan pilih, tetapi kita yakin bahwa Dia tahu apa yang terbaik untuk kita.

 

Ilustrasi:  telur yang dipecahkan, diputer2, dicampur dengan berbagai bahan lain, lalu dimasukkan ke dalam oven.

 

Bahkan ketika mengalami kehilangan atau kegagalan, kita mungkin merasa hancur. Namun, dengan menaruh harapan pada Tuhan, kita dapat percaya bahwa Dia sedang mempersiapkan sesuatu yang lebih baik di masa depan, dan bahwa setiap pengalaman, baik atau buruk, memiliki tujuan dalam rencana-Nya.

 

 Awalnya mungkin kita tidak mengerti, tetapi hasil akhirnya membuat kita penuh dengan sukacita.

 

 




PENUTUP

Jangan biarkan keadaan menentukan iman kita, tetapi biarkan iman kita kepada Tuhan menentukan cara kita menghadapi keadaan.

 

Ilustrasi:  Daniel di Lobang Siang. 

 

iman-daniel


Jika yang diingat hanya kisah Daniel di lobang singa, izinkan saya merefresh atau melengkapi kembali ingatan saudara tentang kisah ini.

 

Kisah ini dimulai dari Yerusalem ditaklukkan oleh penjajah dari Babel, dan kemudian Daniel bersama banyak orang, termasuk teman-temannya diangkut sebagai tawanan ke Babel.

Daniel adalah keturunan bangsawan, dan tentu diangkut sebagai tawanan ke Babel tentu bukanlah sebuah pengalaman yang ia nikmati dan nyaman.

 

Di Babel, Daniel DIPAKSA untuk tekun belajar budaya dan bahasa Babel (*Babilionia) selama 3 tahun. 

 

Apa yang sebenarnya ingin dilakukan oleh Raja Babel memaksa mereka belajar budaya dan bahasa Babel?

Raja Babel ingin Daniel dan teman-temannya mengubah identitas mereka, termasuk nama mereka, dan juga melupakan asal-usul mereka. 

= Termasuk bahkan mengubah imannya Daniel!

 

Daniel - Nama baru: Beltesyazar

Hananya - Nama baru: Sadrakh

Misael - Nama baru: Mesakh 

Azarya - Nama baru: Abednego 

 

Namun apa yang Daniel lakukan?

Ia tetap tekun, tidak menyerah.  Disuruh belajar Ia belajar, dan bahkan menjadi yang terbaik dari semua.  Daniel dikatakan sepuluh kali lebih cerdas dari semua orang ahli di Babel.

 

Karena dia menjadi yang terpintar, meskipun dia baik hati dan tidak sombong, apakah kemudian Daniel tidak punya musuh?

Apakah bahkan ketika Daniel menolong seluruh teman-temannya, baik yang dari Yehuda, maupun yang dari Babel supaya tidak dihukum mati; maka apakah orang pintar dan baik hati itu disukai semua orang?  tidak punya musuh?

Ternyata?  Tetap ada!  Mengapa?

Karena ada yang iri, mengapa Raja menyerahkan kekuasaan Babel kepada Daniel dan teman-temannya, yang bukan orang Babel. 

 

 

Meski Daniel setia!  Setia kepada Tuhan Allahnya, setia kepada raja-nya!

Namun Daniel dijebak dengan peraturan, yang raja buat atas usul musuh-musuhnya Daniel, untuk tidak boleh berdoa atau memohon kepada dewa maupun manusia lain, kecuali kepada Raja!

 

Dalam peraturan itu, Daniel tidak berkompromi untuk kesetiaannya kepada Tuhan.  Dia tetap berdoa 3x sehari, menghadap Yerusalem, seperti kebiasaannya selama ini!

= Dan karena itu, dia ditangkap dan dilemparkan ke gua siang!

 

Singkat cerita, akhirnya adalah Daniel selamat!  Singa-singa tidak melukai apalagi memakan Daniel!

 

Daniel dikeluarkan dari lobang singa,sebagai gantinya, raja memerintahkan agar orang-orang yang menuduh Daniel, termasuk isteri dan anak-anak mereka ditangkap dan dilempar ke gua singa.

 

Dan firman Tuhan mencatat bahwa ketika mereka dilempar, dan bahkan sebelum mereka mencapai dasar gua, singa-singa sudah menerkam dan meremukkan tulang-tulang mereka,

 

Apa yang menarik dari Kisah Daniel ini?

Godaan untuk tidak setia sama Tuhan, ada? Ada!

Ancaman untuk tidak setia sama Tuhan, ada? Ada!

Apa kita melihat Daniel panik?  Tidak! 

Apa Daniel takut? Tidak!

 

 

Meskipun ancaman ada, godaan ada, fitnah ada, Daniel tetap percaya juga bahwa Tuhan itu ada!

 

Mengapa Daniel bisa sangat percaya kepada Tuhan dan tetap menjadi tenang dan bertindak sesuai imannya,  baik mengandalkan Tuhan secara aktif dan menaruh harapan di dalam Tuhan secara pasif?

Karena Daniel terbiasa dan rutin 3x sehari selalu menghadap Tuhan.  Berdoa kepada Tuhan.  Sebelum ada masalah besar seperti ini.

 

Daniel terus melihat Allah yang besar!  Jauh sebelum dia melihat ada masalah besar yang terjadi di kehidupannya!

 

Apakah kita juga terus melihat Allah yang besar setiap hari?
Apakah kita juga membangun relasi dengan Tuhan setiap hari, berakar di dalam Tuhan?

 

Sehingga, kalaupun ada masalah besar datang, Tuhan yang besar yang dilihat oleh kita setiap hari akan membuat kita punya ketenangan dan damai sejahtera!  Amin?

 

Maka, kita akan seperti Daniel yang di dalam musim apapun, akan bisa berbuah!

Menyenangkan Tuhan, memuliakan Tuhan setiap hari,

 

 

 

 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bottom Ad [Post Page]